cara menghitung hari perkiraan lahir

Cara menghitung hpl kelahiran bayi

Ayah Bunda pasti sangat menunggu-nunggu hari kelahiran buah hatinya. Mencari tahu tanggal bersalin penting bagi Bunda merencanakan segala persiapan persalinan serta perawatan kehamilan yang tepat dari jauh-jauh hari. Nah, Bunda bisa memperkirakan kapan tepatnya tanggal bersalin dengan cara menghitung hpl kelahiran bayi Bunda. Berikut panduannya.

Cara menghitung hpl kelahiran bayi

cara menghitung hpl kelahiran bayi
cara menghitung hpl kelahiran bayi

Cara menghitung hpl kelahiran bayi bisa diketahui dengan mencari tahu dulu berapa usia kehamilan Bunda sekarang.

Nah, di sini yang masih suka sering salah paham. Bunda atau orang-orang di sekitar Bunda mungkin selama ini menyebut usia kehamilan dengan hitungan bulan. Misalnya, hamil 6 bulan, hamil 3 bulan, atau hamil 9 bulan.

Padahal, usia kehamilan lebih tepat dinyatakan dalam minggu dan hari. Sebab ini ada kaitannya dengan kapan hari pertama haid terakhir (HPHT) Bunda.

Usia kehamilan umumnya berlangsung selama 38-40 minggu atau 280 hari sampai waktunya melahirkan. Rentang waktu ini juga termasuk dua minggu masa pembuahan setelah menstruasi terakhir meski Bunda belum dinyatakan positif hamil.

Cara menghitung HPL adalah dengan rumus:

Pada tanggal di hari pertama menstruasi terakhir + 7 hari – 3 bulan + 1 tahun.

Contohnya jika HPHT Bunda adalah 11 April 2019 dan ditambahkan 7 hari ke depan, berarti 18 April 2019. 18 April 2019 adalah minggu pertama kehamilan Bunda. Setelahnya kurangi 3 bulan dari bulan haid terakhir tersebut, yaitu 18 Januari (April bulan ke-4 dikurang 3). Terakhir tambahkan satu tahun dari 2019. Maka dari cara menghitung ini Bunda akan mendapatkan HPL 18 Januari 2020.

Contoh lainnya apabila HPHT Bunda tanggal 8 November 2018. Kurangi 3 bulan sebelumnya, yaitu 8 Agustus 2018. Nah, 8 Agustus ditambah 7 hari 1 tahun adalah tanggal 15 Agustus 2019.

Cara menghitung Hari Perkiran Lahir (HPL) yang lebih praktis sebetulnya hanya dengan mengingat hari pertama terakhir haid dan ditambahkan 266 hari. Namun, cara hitungan ini berlaku apabila siklus haid Bunda normal setiap 28-30 hari sekali.

Cara menghitung HPL di dokter

  1. USG (ultrasonografi)

Apabila Bunda lupa kapan tepatnya hari pertama haid terakhir, tidak perlu khawatir. Bunda bisa konsultasi ke dokter untuk menjalani USG (ultrasonografi) supaya tahu berapa usia kehamilan Bunda saat ini.

Tidak semua wanita sempat melakukan USG di awal kehamilan. Banyak pula yang tidak menyadari bahwa mereka sedang hamil. Dengan USG atau ultrasonografi dapat memberi tahu tanggal persalinan lebih akurat dibanding cara menghitung HPL pakai rumus.

Namun, dokter biasanya menyarankan cari tahu HPL lewat USG hanya jika siklus haid Bunda normal. Dokter umumnya juga meragukan USG atau ultrasonografi untuk menghitung hari perkiraan lahir apabila ibu hamil sudah berusia 35 tahun atau lebih.

Dan juga USG atau ultrasonografi tidak dianjurkan apabila Bunda memiliki riwayat keguguran atau komplikasi kehamilan yang dalam pemeriksaan fisik sebelumnya sudah dinyatakan bisa memengaruhi hari perkiraan lahir bayi.

  1. Menghitung detak jantung janin

Selain USG (ultrasonografi), ada juga cara menghitung HPL dengan mengetahui detak jantung bayi pertama kali terdengar. Biasanya pada sekitar minggu ke-9 atau 10, meski bisa bervariasi, dan ketika ibu pertama kali merasakan gerakan janin.

Gerakan janin biasanya mulai terdeteksi antara usia kehamilan 18-22 minggu, tetapi bisa lebih awal atau lebih lambat. Dari sini, dokter bisa menentukan hari perkiraan lahir bayi Bunda.

  1. Ketinggian fundus uteri

Fundus wanita lokasinya berada dari tulang panggul sampai ke bagian atas rahim Bunda. Tiap Bunda periksa rutin kehamilan, dokter bisa menentukan hari perkiraan lahir dari ketinggian fundus. Semakin tua usia kehamilan, umumnya fundus akan semakin kecil jaraknya.

Bagaimana cara menghitung HPL untuk kehamilan IVF?

Berbeda cara hamil, berbeda pula cara menghitung HPL (Hari Perkiraan Lahir). Bahkan, Pada tanggal jatuh tempo kelahiran bayi IVF lebih akurat dari kehamilan lewat proses pembuahan alami.

Lewat IVF, Bunda dan dokter akan tahu pasti tanggal pembuahan sel telur dan pemindahan embrio (sel telur yang berhasil dibuahi sperma) ke dalam rahim. Kemudian, Hari persalinan dapat diperkirakan dengan menambahkan 266 (38 minggu) hari sejak tanggal pembuahan. Selain itu, proses pengambilan sel telur sebelumnya juga sudah dijadwalkan sebelum wanita ovulasi.

Maka, cara menghitung Hari Perkiraan Lahir (HPL) untuk kehamilan IVF adalah dengan cukup menambahkan 38 minggu (266 hari) setelah proses inseminasi sel telur. Hitungan 38 minggu ini hanya untuk yang punya periode menstruasi tiap 28 hari sekali.

Cara lainnya untuk menghitung Hari Perkiraan Lahir (HPL) dari kehamilan bayi tabung adalah dihitung dari tanggal transfer embrio ke dalam rahim lalu ditambahkan 38 minggu. Misalnya, jadwal transfer embrio Bunda adalah 8 Mei 2019. Tambahkan 38 minggu dari waktu itu, maka Bunda akan mendapatkan 29 Januari 2020.

Cara menghitung HPL kehamilan IVF sebetulnya tidak dihitung berdasarkan waktu pembuahan, namun berdasarkan tanggal transfer embrio. Ini akan memberikan perkiraan tanggal bersalin yang lebih akurat. Perkiraan ini juga dapat lebih lanjut dipastikan lewat cek USG (ultrasonografi).

Hari Perkiraan Lahir (HPL) suka berubah-ubah

Walaupun Bunda sudah tahu kapan kira-kira buah hati Bunda lahir, hasil akhir dari cara menghitung HPL tidak bisa dijadikan patokan pasti. Kenyataannya, tanggal bersalin mungkin bisa lebih maju atau mundur dari perkiraan tanggal HPL Bunda saat ini.

Perkiraan hanya 5% ibu hamil yang melahirkan tepat di hari perkiraan lahirnya. Selebihnya melenceng dari jadwal. Berikut beberapa penyebab umum tanggal persalinan berubah meskipun cara menghitung HPL nya sudah benar sesuai rumus:

  1. Salah tanggal Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT)

Salah tanggal Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) adalah penyebab paling umum kenapa perkiraan tanggal melahirkan suka meleset. Salah menentukan Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT) maka akan salah pula hasil cara menghitung Hari Perkiraan Lahir Bunda.

Pembuahan umumnya terjadi 2 minggu atau antara hari ke 11-21 setelah Hari Pertama Haid Terakhir (HPHT). Namun sebenarnya tidak ada yang tahu pasti kapan tepatnya pembuahan berlangsung. Bahkan dokter sekali pun.

Belum ada teknologi medis yang dapat secara akurat memberi tahu waktu pembuahan terjadi.

  1. Perubahan ukuran leher rahim

Sebuah penelitian yang menunjukkan bahwa wanita dengan leher rahim pendek (kurang dari 2,5 cm) punya kecenderungan melahirkan lebih awal.

Penjelasan ini juga didukung dari International Journal of Obstetrics and Gynecology. Sebuah penelitian mengatakan bahwa 85% wanita yang memiliki ukuran leher rahim pendek (sekitar 1 cm) melahirkan lebih cepat dari pada wanita yang ukuran leher rahimnya sekitar 2,5 cm.

Semakin tua usia kehamilan dan mendekati hari perkiraan lahir, ukuran leher rahim Bunda juga bisa makin memendek. Pemendekan panjang leher rahim bertujuan agar kepala bayi lebih mudah turun dan siap lahir.

Jadi, meski cara menghitung Hari Perkiraan Lahir sudah benar, ukuran leher rahim Bunda berubah sehingga perkiraan tanggal lahir malah meleset.

  1. Posisi bayi dalam kandungan berubah

Posisi janin di dalam kandungan juga turut menentukan cepat tidaknya persalinan bunda. Bila kepala janin sudah berada di posisi seharusnya dan sesuai dengan usia kandungan, maka tanggal persalinan kemungkinan akan tepat waktu.

Sementara bila tidak, jadwal melahirkan Bunda mungkin akan sedikit terlambat dari tanggal perkiraan. Umumnya dokter akan menganjurkan operasi caesar atau induksi apabila usia kandungan sudah lebih dari 40 minggu.

Bisakah bunda menentukan tanggal kelahiran sendiri?

Meski Bunda sudah mengetahui tanggal persalinan lewat cara menghitung Hari Perkiraan Lahir (HPL), banyak orang tua yang ingin anaknya lahir di hari spesial atau tanggal yang unik. Namun, hal ini belum tentu bisa dilakukan pada setiap kehamilan.

Bila situasi dan kondisi kehamilan Bunda mengharuskan untuk lahir lewat operasi caesar, Bunda mungkin bisa memilih tanggal yang tidak jauh dari Hari Perkiraan Lahir (HPL) seharusnya.

Namun, keputusan untuk menjalani caesar juga tidak boleh sembarangan. Operasi caesar umumnya hanya diperbolehkan jika kondisi kehamilan berisiko tinggi. Tetapi, Faktanya banyak Rumah Sakit yang mengambil jalan pintas agar segera melakukan Operasi caesar, Tujuannya agar mendapatkan Profit. Yah Seperti itulah Ayah Bunda Sahabat As Shidiq Aqiqah di zaman yang menuhankan Hukum Manusia, Demikian semoga bermanfaat.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Comment